Site Loader

Ancaman
Pekerja Anak Bagi Penerus Generasi Bangsa Indonesia.

 

Abstract

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

The problems in the world of
employment in Indonesia became more severe with the emergence of problems
regarding the protection of children’s rights, the exploitation of children in the
world of work or can be called “Child Worker” . In this issue the term of child
workers can be summed up the exploitation of children under their power over
with minimal wages. Not only that, in addition to the minimal wages, long
working hours can make them lose their time for formal education (school) and
time to play with their friends.  This
can be a threat for the child workers to get a decent education and time to
play. In fact, children under age are not required to work and become the
backbone of their family.  Employing
children under age is the Act of violation of the rights of the
child.  According to  law  number 03 of  2002 on child protection article 9 paragraph
1, which reads, “Every child has the right to obtain education , taking a lessons
in order to personal development and for having a intelligence according to
their interest and talents”. In this paper, the authors will discuss more about
the problems of  child workers and the
development of child workers in Indonesia, using social theory approach to
Feminism, as a reference in this paper.

 

Keywords: Worker,
children, Exploitation

 

 

 

 

 

 

 

 

Pendahuluan

 

Pada era
globalisasi ini, pertumbuhan jumlah manusia didunia menjadi semakin tinggi. Hal
ini dapat membuat keinginan manusia untuk mendapatkan penghidupan yang layak
menjadi sangat sulit untuk digapai, karena semakin banyak jumlah manusia maka
akan semakin sedikit lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal tersebut dapat
mengancam masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak mendapatkan
keberentungan dalam mencari kerja. Karena kesulitannya dalam mendapatkan kerja,
masyarakat yang pengangguran terpaksa membanting setir dengan melibatkan anak
dibawah umur untuk diterjunkan dalam dunia pekerjaan, baik anak tersebut anak
kandungnya sendiri maupun anak hasil 
tindakan penculikan.  Tindakan ini
merupakan tindakan yang melanggar hukum anak, berdasarkan UU nomor 3 pasal 9,
alenia 1 yang menyatakan bahwa, “Setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan
pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya
sesuai dengan minat dan bakat”.

 

Tidak hanya
itu, tindakan tersebut dapat membuat nasib anak di masa depan  akan berakhir sama dengan nasib orang tuanya
bahkan mungkin bisa lebih buruk. Pernyataan ini diperkuat dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Bellamy (1997), yang mengemukakan bahwa anak-anak yang
berkerja di usia dini, biasanya berasal dari keluarga yang kurang mampu, dengan
pendidikan yang terabaikan dan sesungguhnya akan melestarikan kemiskinan,
karena anak yang bekerja akan tumbuh menjadi dewasa yang terjebak dalam
pekerjaan yang tak layak, dengan upah yang sedikit. Tidak hanya itu,
meningkatnya jumlah pekerja anak dari tahun ke tahun dapat menjadi permasalahan
yang serius bagi negara. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun
2011 terdapat 878,1 ribu anak rata-rata usia 10 sampai 14 tahun yang bekerja
dan 174,5 ribu jumlah anak yang mencari kerja. Jumlah anak di Indonesia adalah
sebesar 22 juta.1 Hal ini
menandakan bahwa terjadi peningkatan presentase jumlah pekerja anak sebesar 10%
dibandingkan dengan jumlah pekerja anak pada tahun 2009 yang hanya sebanyak
674,3 ribu jiwa.2

 

Faktor dari
peningkatan jumlah pekerja anak adalah karena banyaknya  pekerjaan yang dihalal kan oleh masyarakat
untuk anak-anak, tetapi pekerjaan-pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang
mudah, kebanyakan pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang menguras tenaga
fisik, contohnya seperti ; pembantu rumah tangga, penjaga toko, tukang
bersih-bersih makam, dan lain-lain. Menurut hasil dari pengamatan dilapangan,
hasil jerih payah dari usaha anak-anak pekerja bukan untuk dirinya sendiri
tetapi untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang seharusnya ditanggung
oleh orang tua. Seperti Suci misalnya, Suci adalah anak perempuan berusia 13
tahun yang terpaksa merelakan waktu bermain dan belajarnya demi pekerjaanya,
yaitu sebagai tukang bersih-bersih makam. Suci terpaksa bekerja sebagai tukang
bersih-bersih makam demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya .Tidak hanya itu,
Suci kerap mendapat bullyan dari teman-teman sebaya nya karena ia bekerja dan
tidak mempunyai waktu luang untuk bermain dengan teman-teman nya. Dalam sehari,
Suci dapat membersihkan lebih dari sepuluh makam dengan pendapatan 50 ribu perhari
nya. Hal ini dapat mengancam kesehatan mental Suci dan kesehatan fisiknya.

 

Sama hal nya
dengan Suci, Sofia (18) mengaku bahwa pada saat ia berusia 16 tahun, ia
menyesalkan kedaan ekonomi keluarganya yang sangat memprihatinkan, sehingga ia
terpaksa untuk tidak meneruskan pendidikannya yang saat itu telah menempuh
jenjang menengah pertama (SMP) ke pendidikan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA),
penyesalan Sofia berlanjut sampai saat ini. Selain menyuruh Sofia untuk
mengurungkan niatnya dalam melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, orang tua
Sofia juga memaksa Sofia untuk menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya. Rumah
tangga Sofia dengan suaminya  awalnya
berjalan dengan harmonis, namun setahun kemudian, Sofia memilih untuk
mengakhiri bahtera rumah tangganya karena ia merasa tidak cocok dengan suami
pilihan orang tuanya, dan setelah bercerai Sofia terpaksa untuk bekerja lagi
untuk membiayai kehidupan keluarganya. Beban yang diemban Sofia bertambah berat
karena ia bekerja dalam keadaan hamil dan usia Sofia masih tergolong remaja
factor usia Sofia dapat membuat kehamilan Sofia rentan keguguran.

 

Sebagaimana
telah dikemukakan diatas, bahwa permasalahan yang dihadapi oleh pekerja anak
kebanyakan dialami oleh anak perempuan dan permasalahan ini dapat mengancam
masa depan anak serta keturunannya. Studi ini akan membahas lebih lanjut
tentang permasalahan pekerja anak,khususnya anak perempuan serta membahas
tentang perkembangan pekerja anak di Indonesia.

·        
Perkembangan Pekerja Anak

 

Perkembangan
pekerja anak mengalami sedikit penurunan . Dalam perkiraan global mengenai
jumlah pekerja anak yang dilaporkan oleh ILO pada tahun 2006, memaparkan bahwa
terjadi penurunan tingkat pekerja anak sebesar 11 persen dari tahun 2000 hingga
2004. Kemajuan ini merupakan hasil dari upaya masyarakat global untuk mengatasi
permasalahan pekerja anak serta memberantas adanya pekerja anak. Namun,
penurunan tingkat pekerja anak tersebut 
masih belum dapat menuntaskan kasus pekerja anak karena penurunan
tingkat tersebut masih dinilai sangat sedikit, pada tahun 2004 jumlah pekerja
anak sebesar 218 anak yang rata-rata berusia 5 sampai 17 tahun.

 

 Pada tahun 2009 hingga 2011, jumlah pekerja
anak naik dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan tahun-tahun
sebelumnya. Pernyataan ini diperkuat dengan adanya data dari Badan Pusat
Statistik yang menyatakan bahwa, pada tahun 2011 terdapat 878,1 ribu anak
rata-rata usia 10 sampai 14 tahun yang bekerja dan 174,5 ribu jumlah anak yang
mencari kerja. Jumlah anak di Indonesia adalah sebesar 22 juta.3
Hal ini menandakan bahwa terjadi peningkatan presentase jumlah pekerja anak
sebesar 10% dibandingkan dengan jumlah pekerja anak pada tahun 2009 yang hanya
sebanyak 674,3 ribu jiwa.4

 

 Pada tahun 2015, peningkatan jumlah pekerja
anak meningkat tinggi, menurut data dari kemnaker atau kementrian tenaga kerja
mengungkapkan bahwa, sebanyak 2,2 juta orang anak yang telah masuk ke pasar
tenaga kerja sebagai angkatan kerja. Jumlah tersebut merupakan jumlah pekerja
anak keseluruhan bukan berdasarkan umur anak. Dari jumlah tersebut terdapat
1,65 juta atau jika dipresentasekan sebesar 74,86%  anak pada usia 15 hingga 17 tahun yang telah
terlibat dalam dunia kerja dan sebanyak 0,55 juta orang atau jika
dipresentasekan sebesar 25,14% menganggur (tidak bekerja dan putus sekolah). 5
Rata-rata pekerja anak sudah tidak mengenyam pendidikan formal lagi atau putus
sekolah.

 

Selain itu,
pada tahun 2015, jumlah anak yang bekerja diwilayah perkotaan jauh lebih besar
dibandingkan dengan jumlah anak yang bekerja diwilayah pedesaan, yaitu 52,72%
total pekerja anak di wilayah perkotaan dan 47,28% total pekerja anak di
wilayah pedesaan.  Tidak hanya itu,
jumlah pekerja anak lebih didominasi oleh pekerja anak berjenis kelamin
laki-laki yang totalnya sebanyak 59,58% dan sisanya adalah total pekerja
perempuan. Ketimpangan dalam jumlah pekerja laki-laki dan perempuan dipengaruhi
oleh permasalahan gender.

 

·        
Permasalahan Pekerja Anak Dalam Kacamata Gender

 

Kasus pekerja anak bagi masyarakat Indonesia sudah
merupakan suatu hal yang biasa karena anak kecil di lingkungan masyarakat
menengah kebawah sudah terbiasa dilatih dan dilibatkan dalam dunia kerja oleh
kedua orang tuanya. Hal ini memang dapat berdampak positif bagi anak, selain
dapat membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, anak juga dapat
memiliki pengalaman dan teman baru dalam dunia kerja, namun dampak positif
hanya memiliki sedikit nilai, kasus pekerja anak ini lebih banyak menimbulkan
dampak negatif dibandingkan dampak positifnya. Seperti pada pengamatan yang
diungkapkan pada bab pendahuluan, anak-anak yang bekerja cenderung putus
sekolah, rentan terkena resiko kecelakaan kerja serta rentan terkena gangguan
kesehatan mental maupun fisik.

 

Lain halnya dengan pekerja laki-laki, beban yang
ditanggung pekerja perempuan lebih besar karena selain bekerja perempuan juga
mengemban tugas-tugas rumah seperti memasak, bersih-bersih dan lain sebagainya.
Selain itu, pekerja perempuan lebih rentan terkena pelecehan seksual ditempat
kerja. Tidak hanya itu, adanya diskriminasi gender yang melekat pada budaya
pemikiran masyarakat membuat derajat perempuan menjadi lebih rendah
dibandingkan dengan laki-laki. Pernyataan ini diperkuat dengan adanya  lima siklus kehidupan anak perempuan sejak
lahir hingga berusia 18 tahun, dimana siklus tersebut memaparkan tentang
perlakuan disriminatif kepada anak perempuan, siklus tersebut yaitu:

 

–         
Siklus Pertama

 Siklus pertama
ini dialami oleh anak perempuan yang baru lahir. Pada siklus tahap pertama ini,
tindakan diskriminasi berdasarkan gender terlihat saat kelahiran anak perempuan
tidak terlalu dihargai sehingga tidak ada perayaan kelahiran anak perempuan
karena nilai anak perempuan lebih rendah daripada nilai anak laki-laki.

 

–         
Siklus Kedua

Siklus kedua merupakan siklus yang dialami pada anak
perempuan pada usia satu tahun. Perlakuan diskriminasi gender pada siklus ini
dilihat dengan adanya ketimpangan dari kondisi kesehetan, asupan gizi,
imunisasi dan tingkat kesehatan anak perempuan yang pada umumnya lebih rendah
jika dibandingkan dengan anak laki-laki

 

–         
Siklus Ketiga

Pada siklus ketiga, merupakan siklus yang dialami pada
anak perempuan di usia 1 sampai 5 tahun. Dalam siklus ini diskriminasi gender
terlihat pada rendahnya kesempatan pendidikan, pengasuhan anak serta perhatian
orang tua lebih banyak dialami oleh anak perempuan dibandingkan anak laki-laki.

 

–         
Siklus Keempat

Dalam siklus keempat, anak perempuan usia sekolah
dasar yaitu usia 6 sampai 11 tahun mengalami bentuk diskriminasi dilingkungan
keluarga, misalnya menjadi pekerja keluarga, rendahnya prioritas pendidikan
pada anak sehingga tingkat anak putus sekolah meningkat dan tingkat pendidikan
menjadi rendah.

 

–         
Siklus Kelima

Pada siklus terakhir ini, dialami oleh anak perempuan
diusia  remaja yaitu usia 11 hingga 18
tahun. Dalam tahap ini, bentuk diskriminasi pada anak perempuan yaitu anak
perempuan tidak boleh menempuh pendidikan yang lebih tinggi karena mereka
dipersiapkan untuk memasuki jenjang pernikahan, berbeda hal nya dengan anak
laki-laki pada usia ini, laki-laki dipersiapkan untuk menempuh jenjang
pendidikan yang lebih tinggi dan diharapkan dapat menjadi orang yang
meningkatkan kesejahteraan bangsa.

 

Adanya kelima siklus diatas juga mempengaruhi
ketimpangan jumlah pekerja anak yang lebih didominasi oleh anak laki-laki.
Berdasarkan data Susenas 2000 KOR menunjukkan bahwa jumlah anak laki-laki yang
bekerja lebih banyak dibandingkan dengan anak perempuan. Hal ini dibuktikan
dengan jumlah presentase pekerja anak berjenis kelamin laki-laki sebesar 8,2%,
jumlahnya lebih besar dibandingkan dengan presentase pekerja anak berjenis
kelamin perempuan yang hanya sebesar 5,3%. Dalam data ini dapat dilihat bahwa, pekerja
anak laki-laki lebih mendominasi dibandingkan pekerja anak perempuan, hal ini
dikarenakan oleh pandangan masyarkat atau orang tua yang menilai anak laki-laki
memiliki fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan anak perempuan sehingga anak
laki-laki dapat bertahan untuk mengemban tanggung jawab kebutuhan ekonomi
keluarga dan bekerja merupakan tugas dari laki-laki.

 

Fenomena ketimpangan diatas dapat kita simpulkan bahwa
pekerja anak perempuan selalu mengalami permasalahan diskriminasi dari segala
aspek, baik aspek pendidikan, pekerjaan serta derajat sosial. Ketimpangan ini
dapat mengancam kebebasan perempuan untuk mendapatkan hak untuk berpendidikan,
hidup sejahtera dan hak untuk hidup bermartabat.

 

·        
Pendekatan Teori Feminisme Sosial Dalam Permasalahan
Pekerja Anak

 

Teori feminisme merupakan teori yang dibentuk sebagai
perlawanan dalam upaya diskriminasi atas nama gender yang diawali oleh presepsi
tentang ketimpangan posisi perempuan dibandingkan dengan laki-laki pada
lingkungan masyarakat. Selain itu, faktor pembentukan teori feminisme adalah
sebagai paham untuk menyadarkan derajat perempuan yang rendah di kalangan
masyarakat, sehingga terdapat keinginan untuk memperbaiki atau mengubah derajat
perempuan tersebut menjadi setara dengan laki-laki. 6 

 

Feminisme dibagi menjadi tiga yaitu; feminisme
liberal, feminisme marxis atau sosialis dan feminisme radikal. Dari ketiga
bagian feminisme tersebut, penulis lebih memfokuskan feminisme sosialis sebagai
acuan untuk menganalisis permasalahan yang terkait dengan pekerja anak.

 

Feminisme sosialis merupakan sebuah aliran feminisme
yang berupaya untuk menghilangkan struktur kelas dalam masyarakat  berdasarkan gender dimana adanya perbedaan
kelas dalam gender tersebut terbentuk karena adanya faktor budaya alam. Dalam
aliran ini, anggapan tradisional yang memandang bahwa perempuan lebih rendah
dibandingkan dengan laki-laki, ditentang dengan keras. Tidak hanya itu, aliran
ini memandang bahwa ketimpangan derajat 
perempuan dengan laki-laki dalam lingkungan masyarakat, dapat terjadi
karena adanya penerapan system kapitalis yang mendukung perempuan sebagai
pekerja  dalam rumah tangga yang tidak
mendapatkan upah (Ibu Rumah Tangga). Istri memiliki ketergantungan lebih tinggi
terhadap suaminya daripada sebaliknya.

 

Permasalahan pekerja anak, khusunya anak perempuan
jika dilihat dalam pandangan feminisme sosialis, terlihat sangat problematik.
Dengan munculnya pekerja anak yang berjenis kelamin perempuan yang dimana anak
perempuan kondisi fisiknya lebih lemah dibandingkan laki-laki menjadi faktor
pendukung dalam tindakan diskriminasi serta pengesploitasian karena pekerjaan
yang lebih layak biasanya didominasi oleh laki-laki dan perempuan hanya
mendapatkan pekerjaan yang upahnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan upah
pekerjaan laki-laki.

 

Ketimpangan kerja ini berasal dari adanya perbedaan
tingkat pendidikan, kekuatan fisik antara laki-laki dengan perempuan  sehingga perempuan hanya pantas mendapatkan
pekerjaan yang tingkat kelayakan nya jauh dibawah pekerjaan laki-laki. Hal
tersebut jika dilihat dalam pandangan feminisme sosialis dapat di simpulkan
bahwa dengan terjunnya anak perempuan dalam dunia pekerjaan akan memperdalam
sikap atau tindakan diskriminasi terhadap anak perempuan dan pada akhirnya anak
perempuan hanya akan terjebak dalam pekerjaan yang melelahkan dengan upah yang
tidak seberapa. Hal ini dapat membuat munculnya kelas miskin atau proletar yang
didominasi oleh kaum perempuan baik itu anak-anak maupun dewasa.

 

Permasalahan diatas dapat diatasi melalui pendekatan
feminisme sosialis, yang menawarkan sebuah konsep yaitu konsep kesetaraan nilai
dan derajat bagi pekerja laki-laki dan perempuan dengan memberikan upah yang
setara tanpa melihat gendernya dan upah tersebut sesuai dengan proses lamanya
pekerjaan atau jam kerja. Hal tersebut merupakan penyelesaian masalah dalam
konteks pekerja perempuan dewasa, tetapi untuk menyelesaikan permasalahan dalam
konteks pekerja anak dengan menggunakan teori feminisme ialah, anak-anak
perempuan sebaiknya tidak diperbolehkan untuk terjun dalam dunia kerja. Hal ini
juga berlaku bagi anak laki-laki. Tanggung jawab ekonomi harus dipenuhi oleh
kepala rumah tangga, baik itu ayah atau maupun ibu (Jika ayah sudah meninggal
atau tidak dapat bekerja karena cacat). 

 

Tidak hanya itu, kesadaran masyarakat dalam bahayanya
sikap diskriminasi gender dapat berkontribusi besar dalam memberikan perubahan
kehidupan yang layak bagi perempuan serta 
upaya dalam penghapusan diskriminasi atas gender dalam perihal pekerjaan
harus segera dilaksanakan. Jika hal tersebut terwujud dengan baik, maka
laki-laki dan perempuan dapat bekerja dengan tingkat setara dan hal ini dapat
meminimalisir jumlah pekerja anak yang rata-rata dilatar belakangi  oleh ketidakmampuan orang tua dalam mencari
uang misalnya seperti, seorang ayah yang tidak mampu bekerja (cacat) atau tidak
mendapatkan kerja karena susahnya lapangan pekerjaan (pengangguran) dan ibu
yang bekerja tetapi upahnya tidak mencukupi ekonomi keluarga sehingga terpaksa
menerjunkan anak-anak nya kedalam dunia kerja.

 

 Selain itu,
prespektif masyarakat tentang derajat anak laki-laki yang lebih tinggi
dibandingkan perempuan, perlu dihilangkan karena setiap anak, apapun gendernya,
berhak mengenyam pendidikan tinggi dan mendapatkan kasih sayang penuh dari
orangtuanya.  

                          

Kesimpulan

 

Permasalahan pekerja anak di Indonesia dapat
dikhawatirkan akan semakin sulit untuk diatasi jika masyarakat dan negara tidak
berkontribusi penuh dalam upaya memberantas kasus pekerja anak ini hingga
sampai ke akarnya. Tidak hanya itu, ketimpangan sosial di lingkungan masyarakat
menengah kebawah menjadi faktor pendukung dalam timbulnya permasalahan mengenai
pekerja anak tersebut.

 

Terhimpitnya keadaan ekonomi yang semakin
memprihatinkan, merupakan alasan utama keluarga 
dalam melibatkan anak dalam dunia kerja. Terlibatnya anak dalam dunia
kerja dapat mengancam pendidikan anak serta masa depan anak, karena anak yang
terlibat dalam dunia pekerjaan tidak memiliki waktu luang untuk menuntut ilmu
setinggi mungkin dan dalam dunia yang sangat kejam ini, pendidikan yang tinggi
merupakan kunci utama manusia untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

 

Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah harus
lebih memperhatikan kondisi rakyat miskin nya serta memberikan keringanan bagi
anak-anak tidak mampu untuk mengenyam pendidikan dengan baik (pemberian sekolah
gratis), tidak hanya pemerintah saja yang harus berkontribusi dalam upaya
penyelesaian ini. Masyarakat juga dapat terlibat dalam upaya mengatasi
permasalahan ini dengan menghentikan peluang pekerjaan bagi anak-anak agar
dapat meminimalisir jumlah pekerja anak dan masyarakat juga harus menghilangkan
prespektif diskriminatif dalam memperkejakan laki-laki dan perempuan sehingga
upah mereka sama rata dan setara. Dengan , pekerjaan antara ibu dan ayah
sama-sama menghasilkan gaji yang cukup, anak-anak tidak perlu bekerja untuk
membantu orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

2

3

4

5

6

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out