Site Loader

Pendidikan merupakan hal yag sangat pentig dan tidak bisa lepas dari
kehiudpan. Pendidikan merupakan sarana yang dibutuhkan untuk pengembangan
kehidupan manusia. Pendidikan sebagai salah satu kebutuhan bagi manusia dan memegang
peranan yang sangat penting karena dapat membentuk watak dan kepribadian
manusia tersebut sehingga berguna bagi kelangsungan hidupnya di masyarakat.
Pada dasarnya pendidikan adalah suatu upaya terus menerus yang mengembangkan
seluruh potensi kemanusiaan agar mampu menghadapi tantangan hidup. Maka dari
itu pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan
kehidupan generasi ke generasi sejalan dengan tuntutan kemajuan masyarakat dan
bangsanya.

Menurut Saekhan Muchits untuk memperbaiki kehidupan bangsa harus dimulai
dari penataan dalam segala aspek dalam pendidikan, mulai dari aspek tujuan,
sarana, pembelajaran, manajerial dan aspek lain yang secara langsung maupun
tidak langsung berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran.1
Hal ini dimaksudkan untuk mempersiapkan pendidikan yang mampu meyiapkan Sumber
Daya Manusia yang memiliki moralitas yang tinggi. Karena bagaimanapun juga
pendidikan dan moral adalah dua pilar yang sangat penting bagi teguh dan
kokohnya suatu bangsa.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Moral adalah keterikatan spritual pada norma-norma yang telah ditetapkan
baik yang bersumber pada ajaran agama, budaya masyarakat atau berasal dari
tradisi berpikir secara ilmiyah. Keterikatan spiritual tersebut akan
mempengaruhi keterikatan sikapnya terhadap nilai-nilai kehidupan (norma) yang
akan menjadi pijakan utama dalam menentukan pillihan, pengembangan perasaan dan
dalam menetapkan suatu tindakan.2

Pendidikan sejatinya merupakan proses pembentukan moral masyarakat
beradab, masyarakat yang tampil dengan wajah kemanusiaan dan pemanusiaan yang
normal. Artinya, pendidikan diharapkan bisa memberikan sebuah kontribusi
positif dalam membentuk manusia yang memiliki keseimbangan antara kemampuan
intelektual dan moralitas. Di samping itu juga pendidikan moral menjadi sangat
penting bagi teguh dan kokohnya suatu bangsa. Pendidikan moral adalah suatu
proses panjang dalam rangka mengantarkan manusianya untuk menjadi seorang yang
memiliki kekuatan intlektual dan spritual sehingga dapat meningkatkan kualitas
hidupnya di segala aspek dan menjalani kehidupan yang bercita-cita  dan bertujuan pasti. Hal ini harus menjadi
agenda pokok dalam setiap proses pembangunan bangsa. Kemudian dengan
dikeluarkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia
Nomor 23 Tahun 2015 Tentang Penumbuhan Budi Pekerti, semakin memperkuat posisi
lembaga-lembaga pendidikan dalam melaksanakan pendidikan moral dan pendidikan
budi pekerti. Pendidikan moral dan budi pekerti ini bisa diaplikasikan pada
penanaman nilai-nilai agama di lembaga pedidikan Islam. Untuk mewujudkan
pendidikan ini, maka penyelenggaraan pendidikan harus memperhatikan penanaman
nilai-nilai religius dalam segala aspek aktivitas belajar.

Lembaga pendidikam Islam seperti madrasah senantiasa menjadi cermin umat
Islam saat ini. Fungsi dan tugasnya adalah merealisasikan cita-cita umat Islam
yang menginginkan agar anak-anaknya dididik manjadi manusia yang beriman, dan berilmu
pengetahuan,3 serta
berakhlakul karimah. Hal ini senada dengan yang disinyalir dalam QS.  Al Mujadilah (58): 11.

 

????????
??????? ????????? ??????? ???????? ??????????? ??????? ????????? ????????? ( ??)

 

Artinya:

Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan
orang-orang yang berilmu beberapa derajat (Al Mujadilah:11) 4

 

Menurut Annahlawi dalam Muhaimin, at al, tugas lembaga madarasah sebagai
lembaga pendidikan Islam adalah: (1) berupaya memberikan kepada anak didik
dengan seperangkat peradaban dan kebudayaan Islami, dengan mengintegrasikan
antara ilmu-ilmu alam, ilmu sosial, ilmu eksakta dengan landasan ilmu-ilmu
agama, sehingga anak-anak didik mampu melibatkan dirinya kepada perkembangan
Iptek. (2) Merealisasikan pendidikan Islam agar anak didik tekun beribadah, mentauhidkan
Allah SWT, tunduk dan patuh atas peintah dan syariatNya. (3) Memelihara fitrah
anak didik sebagai insan yang mulia agar tidak menyimpang dan tujuan Allah SWT
menciptakannya. (4) Memberikan wawasan nilai dan moral, serta peradaban manusia
yang membawa khazanah pemikiran anak didik menjadi berkembang.5

Dari paparan di atas sudah jelas sasaran jangkaun lembaga pendidikan
Islam (madrasah), karena merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan
nasional. Dalam sistem pendidikan nasional menyatakan bahwa pendidikan
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mecerdaskan kehidupan bangsa. Adapun tujuannya
adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar  menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.6
Sistem pendidikan nasional telah menetapkan bahwa melalui proses pendidikanlah
setiap warga negara akan dibina dan ditingkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Hal
itu tidak akan tercapai tanpa adanya peranan agama karena hanya ajaran dan
nilai-nilai agama yang dapat menuntun manusia untuk bertaqwa kepada Allah SWT.

Selanjutnya bahwa madarasah merupakan lembaga
pendidikan berbasis Islam,7
maka tentu seluruh warga madrasah harus menunjukkan perilaku yang Islami pula
baik sewaktu berada di lingkungan madrasah maupun di rumah, semisal mengucakan
salam, memakai jilbab, sopan santun, humanis dan penuh keakraban. Ciri khas
madrasah seperti ini bukan hanya bersifat simbolik saja tetapi juga secara
substantif yaitu nilai-nilai dan perilaku islami harus menjadi living
culture di madrasah.

Pendidikan Agama Islam di madrasah bertujuan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan
pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang
agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang berkembang dalam hal
keimanan, ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan
pada jenjang  pendidikan yang lebih tinggi.8 Proses
internalisasi nilai-nilai agama ini akan terwujud jika dalam madrasah ada
sebuah pembiasan yang dilakukan oleh masyarakat madrasah. Dari pembiasaan yang
dilakukan diharapkan akan membentuk karakter siswa yang religius.

Menjadi suatu keharusan penyelenggaraan pendidikan agama Islam hendaknya
mampu menggerakkan dan menanamkan nilai budaya keagamaan dalam lingkungan madrasah
mulai dari memberi salam, membaca basmalah dan berdoa setiap kali mulai belajar
sampai dengan mengadakan acara-acara keagamaan seperti PHBI dan lain
sebagainya. Implementasi budaya religius di dalam lingkungan madrasah merupakan
upaya untuk menanamkan nilai-nilai ajaran agama kepada siswa dengan tujuan
dapat memperkokoh keimanan serta menjadi pribadi yang memiliki kesadaran
beragama dan berakhlak mulia.

Menurut Malik Fadjar
bahwa pendidikan agama bukan merupakan kegiatan yang terpisah dari aspek-aspek
kehidupan masyarakat luas. Sekolah hanya merupakan salah satu wahana yang barangkali
bukan utama. Di luar sekolah banyak pihak yang tidak kalah penting peranannya
yang ikut memberikan pengaruh pelaksanaan pendidikan seperti keluarga dan
lingkungan di masyarakat.9
Meskipun lingkungan keluarga dan masyarakat juga sangat berperan bagi
pembentukan kepribadian dan moral anak bangsa, akan tetapi madrasah sebagai
lembaga pendidikan formal yang memiliki sejumlah program kegiatan pendidikan
secara terencana masih menjadi tumpuan untuk pembentukan watak dan moralitas
anak bangsa. Maka harapan yang muncul ialah madrasah dijadikan tumpuan untuk
membentuk moralitas dan kepribadian warga negara yang religius.

Pendidikan agama
khususnya pendidikan agama Islam pada dasarnya harus mencakup tiga aspek secara
terpadu, yaitu: (1) knowing, yakni agar peserta didik dapat mengetahui
dan memahami ajaran dan nilai-nilai religius; (2) doing, yakni agar
peserta didik dapat mempraktekkan ajaran dan nilai-nilai religius; dan (3) being,
yakni agar peserta didik dapat menjalani hidupnya sesuai dengan nilai-nilai dan
ajaran agama.10 Untuk
mewujudkan ketiga aspek di atas diperlukan perubahan paradigma pendidikan agama
di madrasah. Muhaimin menyatakan bahwa terdapat perubahan paradigma pendidikan
agama di smadrasah yaitu bahwa pendidikan agama bukan hanya tugas guru agama
saja, tetapi merupakan tugas bersama antara kepala sekolah, guru agama, guru
umum, seluruh aparat madrasah, dan orang tua murid. Jika pendidikan agama
sebagai tugas bersama, berarti pendidikan agama itu perlu atau bahkan harus diiplementasikan
menjadi budaya madrasah.11

Uraian di atas merupakan konsep Lembaga Pendidikan Islam yang secaara
substantif sangat diharapakan dapat memberikan konstribusi positif dalam  pembentukan moral, keperibadian anak bangsa
yang berkualitas, serta menjunjung tinggi nilai-nilai budaya religius. Di sisi
lain pendidikan agama sebagai salah satu kegiatan untuk membangun pondasi
keimanan dan ketakwaan yang kokoh, ternyata belum berperan secara maksimal.
Kurang berhasilnya pendidikan agama di madrasah secara khusus dan di masyarakat
pada umumnya adalah adanya pemahaman agama yang tidak dibarengi dengan
pengamalan dalam kehidupan sehari-hari yang mencerminkan nilai-nilai agama.

 

Selama ini pelaksanaan pendidikan agama di madrasah masih mengalami
banyak kelemahan, seperti yang diungkapkan oleh Mochtar Buchori dalam Muhaimin
bahwa pendidikan agama masih gagal disebabkan karena praktek pendidikannya
hanya memperhatikan aspek kognitif semata dan mengabaikan aspek afektif dan
konatif-volitif, yakni kemauan dan tekad untuk mengamalkan nilai-nilai ajaran agama.
Akibatnya terjadi kesenjangan antara pengetahuan agama dan pengamalannya. Atau
dalam praktik pendidikan agama berubah menjadi pengajaran agama sehingga tidak
mampu membentuk pribadi-pribadi bermoral, padahal inti dari pendidikan agama
adalah pendidikan moral.12

Demikian
pula dengan pelaksanaan budaya religius yang berjalan di beberapa madrasah
belum mengandung nilai-nilai ajaran agama, hanya berbentuk kegiatan keagamaan
yang dilaksanakan secara rutinitas semata tidak menyentuh rasa beragama yang
menggugah kesadaran untuk dilakukan. Hal itu ditegaskan oleh Rasdianah dalam
Muhaimin bahwa salah satu kelemahan pendidikan agama Islam di madrasah adalah
bidang ibadah diajarkan sebagai kegiatan rutin agama dan kurang ditekankan
sebagai proses pembentukan pribadi.13

Dewasa ini, masalah moralitas di kalangan generasi muda khususnya pelajar
merupakan problema besar. Generasi muda adalah aset bangsa yang akan menentukan
bagaimana masa depan bangsa. 
Kenyataannya sekarang, banyak pelajar yang terlibat kasus-kasus amoral
seperti kasus narkoba, seks bebas, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain.
Problema ini tidak akan dapat terpecahkan, melainkan dengan cara kembali kepada
ajaran agama yang salah satu caranya dengan mengefektifkan pendidikan agama di
madrasah. Untuk menanggulangi persoalan tersebut, lembaga pendidikan Islam
seperti madrasah sudah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi berbagai
persoalan yang timbul di kalangan generasi muda. Tetapi eronisnya nyaris hasilnya
tidak ada perubahan yang signifikan terhadap perilaku anak, karena memang bila
dilihat dari out put, perilaku dan
moral anak didik hampir sama dengan sekolah umum. Ini menandakan bahwa madrasah
hampir tidak memiliki power untuk membentuk anak didik menjadi anak yang di
samping menguasai ilmu secara teoritis tetapi juga mampu mengamalkan dalam
kehidupan sehari-hari. Sementara madrasah satu-satunya lembaga yang diharapkan
masyarakat mampu memberikan andil yang besar terhadap berbagai gejala yang
dialami anak terlebih lagi di zaman sekarang. Harapan ini tentu menjadi tugas
dan tanggung jawab lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan agama untuk
terus berinovasi agar harapan tersebut dapat teraktualisasi dalam bentuk out put yang positif.

Untuk
mencapai tujuan itu, tentu harus ada cita-cita dan keinginan bersama untuk
mewujudkan harapan itu, yakni dengan cara menciptakan suasana budaya religius
dan mempertahankan nilai-nilai religius agar menjadi budaya yang melekat pada
peserta didik.

Menyikapi keadaan yang demikian, maka penyelenggara pendidikan agama
Islam perlu menyiasatinya dengan kegiatan-kegiatan lain di luar jam pelajaran
dalam kelas sebagai bentuk pengamalan dan upaya penanaman nilai-nilai keislaman
kepada peserta didik. Hal itu dimaksudkan agar nilai-nilai keislaman itu
menjadi sikap dan cara hidup yang tercermin dalam kepribadian peserta didik
sehari-hari sehingga membentuk akhlak yang mulia. Adapun upaya yang dapat
dilakukan adalah dengan menerapkan budaya religius di madrasah, artinya seluruh
warga madrasah membiasakan diri mengamalkan ajaran-ajaran agama di madrasah
supaya menjadi kultur atau budaya di madrasah tersebut.

Dari uraian di atas, maka  salah
satu hal yang sangat penting dalam membangun budaya religius di madrasah adalah
adanya kemampuan manajerial kepala madrasah. Sebagai kepala madrasah memiliki
peran sangat penting dalam hal pengelolaan program madrasah yang harus
diaktualisasikan bersama-sama dengan semua guru, staf kepegawaian dan siswa. Sebagai
seorang pimpinan kepala madrasah harus mampu memobilisasi sumber daya madrasah dalam
kaitannya dengan perencanaan sampai kepada evaluasi program madrasah.

Kepemimpinan menurut Soekarto Indra Fachrudi adalah suatu kegiatan dalam
membimbing suatu kelompok sedemikian rupa sehingga tercapailah tujuan kelompok
itu. Tujuan tersebut merupakan tujuan bersama14.
Pemimpin berfungsi memberi dorongan kepada anggota kelompok untuk menganalisis
situasi supaya dapat dirumuskan rencana kegiatan kepemimpinan yang dapat
memberi harapan baik. Dan juga merumuskan dengan teliti tujuan kelompok supaya
anggota dapat bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Dan harus tetap konsisten
melaksanakan program yang direncanakan.

Kepala madrasah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan madrasah
sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran
kepala madrasah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin
lembaga.15 Bersifat
kompleks karena madrasah sebagai organisasi yang di dalamnya terdapat berbagai
dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedangakan
sifat unik menunjukkan bahwa madrasah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri
tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisai lainnya.

Kepala madrasah harus memiliki kemampuan manajerial kepala madrasah dalam
membangun kegiatan dalam berbagai aspek terutama masalah penerapan budaya religius
dengan menerapkan fungsi-fungsi manajemen secara tepat sehingga tujuan
pendidikan agama Islam dapat tercapai secara efektif dan efisien. Menurut  Wahjosumidjo bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin
organisasi dalam bidang pendidikan merupakan seorang manajer yang dituntut
memiliki kemampuan untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan
mengendalikan organisasi agar organisasi dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.16 Kemampuan
kepala madrasah mengelola organisasi pendidikan perlu ditopang oleh kemampuan
memotivasi kerja para bawahan. Setiap kepala madrasah perlu menguasai ilmu
manajemen pendidikan dan dapat mengaktualisasikan dalam kinerjanya di madrasah.

Seorang pemimpin juga harus mampu menciptakan iklim dan suasana yang
kondusif, aman, nyaman, tenteram, menyenangkan, dan penuh semangat dalam
bekerja bagi pekerja dan pelajar. Sehingga pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar dapat berjalan tertib dan lancar dalam mencapai tujuan yang
diharapkan. Dengan demikian, setiap kepala madrasah harus mampu mempengaruhi,
membimbing, mengkoordinir, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungannya
dengan pengembangan ilmu pendidikan serta pengajaran supaya aktivitas-aktivitas
yang dijalankan dapat lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
pendidikan dan pengajaran.17

Kaitannya dengan menciptakan iklim madrasah yang kondusif, kepala madrasah
perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan warganya terbiasa mengamalkan
ajaran-ajaran agama sehingga menjadi budaya (culture)  bagi seluruh warga madrasah.
Peran kepala madrasah dalam penerapan budaya religius sangatlah penting, karena
lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemimpin yang memiliki komitmen keagamaan
yang kuat dan berwawasan luas akan berjalan dengan dinamis sesuai dengan
kemajuan zaman.

Lembaga pendidikan Islam seperti madarasah akan
dikelola dengan baik terutama dalam pengelolaan pendidikan agama bila kepala
madrasahnya selaku yang memegang otoritas memiliki kompetensi dalam mengelola
lembaga pendidikan. Sesungguhnya dalam Islam, figur pemimpin ideal itu adalah
pemimpin yang mampu mengarahkan serta menjadi tauladan dalam setiap perkataan
dan perbuatan, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. sebagaimana
yang telah digambarkan oleh Allah dalam QS. Al Ahzab (33): 21

 

??????
????? ?????? ??? ??????? ??????? ???????? ???????? ?????? ????? ??????? ???????
??????????? ??????? ???????? ??????? ???????? (??)

 

Artinya:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al Ahzab: 21).18

Jadi ketercapaian tujuan
pendidikan Islam sangat bergantung pada kecakapan dan kebijaksanaan kepala madrasah
sebagai salah satu pemimpin lembaga pendidikan Islam. Hal ini karena
profesional dalam organisasi pendidikan Islam yang bertugas mengatur semua
sumber organisasi pendidikan Islam dan bekerja sama dengan para pendidik dalam
mendidik peserta didik untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan pengamatan awal
peneliti, pelaksanaan budaya religius di MA 
Darul Ulum Beraim Lombok Tengah sudah dilaksanakan walaupun masih banyak
kekurangan-kekurangan yang harus dilengkapi. Hal ini mudah diterapakan karena
semua warga madrasah beragama Islam. Dengan kenyataan yang seperti itu, maka
budaya religius yang sesuai dengan keadaan sosial warga madrasah itulah yang
patut diterapkan. Adanya kesatuan keyakinan menjadi modal dasar penerapan
budaya agama Islam di MA Darul Ulum Beraim Lombok Tengah, terlebih lagi banyak
siswa-siswi yang tinggal di asrama Pondok Pesantren.

Pembudayaan nilai-nilai religius
di MA Darul Ulum Beraim Lombok Tengah memiliki ciri tersendiri apabila dibandingkan
dengan budaya religius yang diterapkan di sekolah-sekolah lain yang berada di
Praya Tengah. Hal itu dapat dirasakan pada saat dimulai kegiatan pembelajaran,
di mana seluruh siswa diharuskan membaca al Quran terlebih dahulu secara
bersamaan dengan surat ditentukan oleh masing-masing siswa. Kegiatan semacam
ini setiap hari dilakukan sehingga dirasakan menjadi suatu kewajiban bagi
seluruh siswa di MA Darul Ulum Beraim Lombok Tengah. Dengan demikian nilai-nilai
agama  yang tergambar di MA Darul Ulum
Beraim Lombok Tengah tersebut berjalan dan membudaya di lingkungan madrasah
merupakan wujud integritas kepala madrasah dan dukungan dari warga madrasah.

Namun pengamalan
nilai-nilai keagamaan itu tidak sepenuhnya berjalan dengan baik sebab ada juga
yang belum maksimal dilaksanakan, misalnya dalam pelaksanaan shalat dhuha’.
Pelakasanaan shalat dhuha’ berjemaah tidak rutin dilaksanakan, padahal
fasilitas berupa mushalla dan air bersih sudah tersedia. Kegiatan semacam ini
penting dilaksanakan, disamping untuk lebih mendekatkan diri kepada sang kholik
tentu agar seluruh siswa terbiasa melaksanakan shalat dhuha’ baik di lingkungan
madrasah maupun ketika mereka berada di rumah. Hal ini disebabkan karena
minimpnya partisipasi guru agama atau wali kelas yang diharapkan ikut
mengontrol anak didiknya.

Menurut asusmi peneliti
tidak terlaksananya secara maksimal kegiatan keagamaan di MA Darul Ulum Beraim Lombok
Tengah disebabkan karena masih kurangnya komunikasi antara guru pendidikan
agama dengan guru yang lain termasuk wali kelasnya. Karena dalam penerapan
budaya-budaya religius tidak mesti kepala madrasah atau guru agama saja yang
bertanggung jawab namun merupakan tanggung jawab bersama warga madrasah.

 Dari uraian di atas, maka peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian terkait dengan Implementasi Budaya Religius pada Lembaga
Pendidikan Islam (study di MA  Darul Ulum
Beraim Lombok Tengah).

1Saekhan
Muchits, Pembelajaran Kontekstual (Semarang: RaSAIL Media Group, 2008), 3.

2Muhammad Alim, Pendidikan
Agama Islam; Upaya Pembentukan Pemikiran dan Kepribadian Muslim (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2006), 9.

3Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam (Jakarta:
PT Bumi Aksara, 2014), 159.

4Alhikmah. Al Quran dan Terjemahan (Bandung: Diponogoro, 2009), 543.

5Muhaimin, at al, Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Filosifis
dan Kerangka Dasar Operasionalnya (Bandung: Trigenda Karya, 1993), 307.

6Undang-Undang
SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), 5-6.

7Dikatakan
berbasis Islam tidak hanya karena ditandai
dengan mata pelajaran agama yang dielaborasi ke dalam mata pelajaran Fiqh,
Akidah Akhlaq, Quran Hadits, SKI dan Bahasa Arab tetapi juga semua warga
madrasah berperilaku sesuai dengan tuntunan agama Islam.

8Abdul
Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama
Islam Berbasis Kompetensi (PT. Remaja  Rosdyakarya : Bandung, 2005), 135.

9A. Malik Fadjar, Holistika
Pemikiran Pendidikan (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), 195.

10Muhaimin, Rekonstruksi
Pendidikan Islam (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada,  2013), 305-306.

11Muhaimin, Nuansa Baru
Pendidikan Islam Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada,  2006), 129.

12Muhaimin, Pengembangan
Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi
(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012), 23.

13Ibid,  24.

14Soekarto Indrafachrudi, Bagaimana
Memimpin Sekolah Yang efektif (Bogor: Ghalia Indonesia, 2006), 2.

15Muwahid Shulhan dan Soim, Manajemen Pendidikan Islam (Yogyakarta:
Teras, 2013), 138.

16Wahjosumidjo, Kepemimpinan  Kepala Sekolah; Tinjauan Teoritis dan
Permasalahannya  (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2013), 96.

17Hendyat Soetopo, et al., Pengantar
Operasional Administrasi Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1982),  271.

18Al Hikmah, Al Quran, 420.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out