Site Loader

Perkembangan   teknologi  
yang   sangat   pesat  
membuat   indrustri otomotif
membuat gebrakan baru yang mendunia. Ide manusia
dalam menghadirkan inovasi mobil yang bisa berjalan sendiri nampaknya akan
terealisasikan( Erlangga: 2017). Teknologi itu dikenal dengan driverless 
car  atau  mobil 
tak berawak. Mobil ini disebut dengan mobil  autonom dimana pengemudi tidak berkontak
langsung dengan setir, cukup duduk di dalam mobil dan pengemudi  siap diantar ke lokasi tujuan. Mobil tak
berawak pun sudah lama dikembangkan dan sudah diujicobakan. Tujuan dari
pembuatan artikel ini adalah agar pembaca tau bagaimana moral dan etika adanya
perkembangan mobil takberawak di dunia. Apa hubungan moral dan etika dengan
mobil? Bagaimana pendapat masyarakat Indonesia maupun Eropa dengan adanya mobil
tak berawak?

               Driverless car adalah mobil tak berawak yang pertama kali digagas oleh google. Sudah 5 tahun google mengembangkan driverless car  ini. Pada 2020, google akan bekerja sama dengan produsen- produsen mobil untuk memproduksi secara massal mobil tak berawak ini(“Smart Car Alias Mobil Pintar Tanpa Sopir” : 2015). Produsen mobil seperti BMW sedang mempersiapkan akan memproduksi mobil otonom pada tahun 2021( Mukti: 2017). Bagi pandangan masyarakat Eropa, adanya mobil tak berawak atau dikenal mobil pintar dapat membantu orang lansia serta penyandang disabilitas ke lokasi- lokasi yang ingin mereka singgahi(Erlangga:2017).                Di negara- negara maju, adanya mobil pintar ini mendapat dukungan yang positif karena pandangan orang dapat mempermudah orang-orang yang membutuhkan. Namun, pada saat uji coba terjadi kecelakaan mobil tak berawak sehingga masyarakat merasa itu berbahaya(Erlangga: 2017). Walaupun dapat sambutan yang positif, mobil ini masih punya kekurangan. Seperti dilansir dari cnnindonesia.com, terdapat kekonyolan masyarakat yang direkam oleh mobil pintar ini. Mulai dari orang tidak berbusana yang tiba- tiba lewat di depan mobil, sekumpulan orang yang dengan sengaja melompat seperti kodok di depan mobil tak berawak, dan wanita yang mengejar bebeknya menggunakan sapu elektrik. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat mencoba mengetes sensor dari mobil pintar itu sendiri dengan melakukan hal- hal tersebut. Dilansir dari cnnindonesia.com, mobil buatan google mengalami kecelakan. Namun, dalam kecelakaan ini, manusia lah yang disalahkan. Pihak google sampai membuat video yang menampilkan kecelakaan lengkap dengan sensornya. Pihak google mengklaim bahwa mobil buatanya mampu melihat ratusan objek dan 360 derajat dari segala arah. Mobil buatanya tidak mudah lelah dan tidak mudah dialihkan. Pihak google bersikeras bahwa manusia lah yang salah. Menurut data statistik google mobil tak berawak lebih aman dibandingkan dengan mobil berawak. Padahal, perlu diketahui bahwa mobil tak berawak 96% mudah diretas karena mobil itu menggunakan sistem. Pencurian pun semakin mudah dimana orang- orang semakin pintar secara otodidak dibidang komputer( Abdurachman: 2017). Kalau begitu, apakah sistem akan lebih baik daripada manusia? Apakah manusia sudah tidak dihargai lagi padahal yang membuat teknologi itu juga manusia? Dimanakah nilai moral manusianya?               Berbanding terbalik dengan Indonesia, adanya mobil tak berawak ini justru membuat pengangguran semakin banyak. Dimana driver taksi banyak yang menganggur karena taksi online, sekarang mau ditambah lagi dengan mobil tak berawak? Berdasarkan data Badan Pusat Statistik angka penganguran bertambah 10. 000, jika ditotal angka pengangguran di Indonesia mencapai 7,04 juta orang( Billy: 2017). Apakah dimasa yang akan datang manusia sudah tidak berguna lagi? Apakah semua akan dikerjakan oleh sistem? Lalu dengan pengangguran semakin banyak apakah yang menganggur juga bisa membeli mobil tak berawak itu? Secara logika, tidak mungkin. Karena harga mobil tak berawak pasti mahal. Hanya orang- orang kaya lah yang bisa membelinya. Secara tidak langsung Indonesia masih terdapat kesenjangan sosial.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

            Dapat disimpulkan bahwa,
pandangan masyarakat dengan  mobil tak
berawak menuai pro dan kontra. Baik di luar negeri maupun dalam negeri. Moral
dan etika pun tidak terjadi keseimbangan dengan adanya mobil tak berawak. Perlu
adanya keseimbangan sosial agar tidak terjadi kesalahpahaman jika terjadi
kecelakaan.

 

 

 

 

 

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out