Site Loader

Salah Jalan

Dalam
titik nol waktu, tiba-tiba ledakan besar itu terjadi. Mungkin saat itu Tuhan
sedang memelekkan mataNya-maka jadilah alam semesta dengan Nebula, Galaksi, planet, bintang dan meteor  yang membuat sistem ekuilibrium semesta yang
sempurna. Dari sana setiap kisah teretas, melewati batas-batas jaman dan titian
evolusi yang panjang.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Tapi
mengapa setelah semakin kompleks, Tuhan seperti menutup mata dan tidak peduli
dengan hasil karyaNya yang super megah ini. Mungkinkah Dia kembali
merenung, mencari inspirasi baru demi penciptaan selanjutnya. Apakah proses
yang sedang berjalan tiba-tiba akan terhenti dan Tuhan akan kembali
menyendiri dalam keabadiannya.

Akh…

Innong
baru saja kembali dari tempat kerjanya. Jam tangannya menunjukkan pukul tiga
dini hari. Orang-orang di seantero kota sudah terlelap bersama mimpi
masing-masing.

“Terima
kasih Pak.”

Ia
menyapa lelaki paruh baya yang mengantarnya, sebelum menutup pintu mobil sedan
silver tepat di gerbang rumahnya.

“Iya,
terima kasih juga, mungkin kamu butuh istirahat yang banyak atas pekerjaan
tambahan hari ini. Ingat, besok kamu harus kembali dengan penampilan yang tetap
segar.”

Kata-kata
yang bercampur senyum kepuasan… mobil
itupun berlalu…

Seperti
biasanya, setelah itu, Innong tidak langsung tidur. Ia
selalu punya waktu untuk mencium ubun-ubun anak semata wayangnya yang pasti
sudah tertidur lelap. Di balik ubun-ubun itulah Innong menitipkan harapan
terbesarnya agar suatu saat ada orang yang peduli  terhadap dirinya.

“Mimpi
yang indah anakku.”

Innong
adalah seorang ibu yang dengan kondisi apa pun,
tetap menyimpan ketulusan untuk sang buah hati. Ketulusan itu seperti akar yang
menguatkan. Dalam pusaran badai kehidupan, Innong tetap
berharap agar dapat berdiri seperti pohon besar yang tak mudah tumbang.

Di
dalam Rumah sederhana itu, Innong hanya berdua dengan Aldi, pangeran kecilnya.
Kematian suaminya, hanya beberapa bulan setelah pesta
pernikahannya, membuat Innong tak punya banyak
pilihan untuk mempertahankan hidupnya yang serba terhimpit.

“Aku
tak mungkin kembali pada keluarga yang telah lama kutinggalkan.”

Innong harus bertanggungjawab pada buah
cintanya dari mendiang suaminya, yakni Aldi.
Merawat Aldi adalah jalan untuk menikmati sisa-sisa cinta yang terbatasi oleh
ruang dan waktu yang berbeda.

“Tapi
mengapa harus dengan cara yang seperti ini…”

Innong
tak punya waktu yang banyak untuk merenungi nasibnya, bekerja sebagai penyanyi
di sebuah tempat hiburan malam sangat jauh dari penilaian positif para
tetangganya. Setiap saat Innong harus menjadi korban atas perasaannya sendiri.

Innong
duduk di depan lemari riasnya. Satu persatu bagian tubuhnya dipandang melalui
bayangan jelas yang tampak di dalam cermin. Seperti sedang mencari potensi
terpendam selain hidung mancung dan bola mata indahnya. Tapi lama Innong duduk
termangu, ia tak menemukan apa-apa.

“Suatu
saat, kecantikanku akan berubah menjadi kulit-kulit
keriput, lantas apa lagi yang bisa menopang hidupku.”

Profesinya
sebagai penyanyi sebenarnya tidak ditunjang dengan bakat suara yang ideal untuk
bernyanyi. Orang-orang lebih tertarik melihat lekuk-lekuk tubuhnya yang kelihatan indah bila digoyangkan di atas panggung. Innong
bukanlah seniman yang selalu pentas di hadapan orang-orang yang paham tentang
nada dan kualitas suara yang baik. Innong lebih sering bernyanyi di depan
orang-orang yang sedang kehilangan akal sehat karena alkohol dan narkotik.

“Asiiik…

Mantappp”

Itulah
yang selalu diucapkan oleh pengunjung ketika Innong beraksi seperti ular betina
yang sedang menggoda para pecinta Ular. Innong memang
sangat terampil melakukannya.

Seperti
tersadar oleh gerak waktu yang mengikis perlahan alam materinya, Innong mulai
berfikir keras untuk menemukan alternatif lain sebagai antisipasi terhadap
segala kemungkinan buruk yang mungkin saja datang pada detik-detik berikutnya.
Aldi masih sangat kecil, masih butuh perhatian yang banyak untuk mengawal
setiap perkembangan jiwa dan raganya.

“Mama,
mengapa setiap orang harus melewati hidup sebagai anak-anak sebelum menjadi
manusia dewasa? Mengapa tidak langsung menjadi orang dewasa saja?”

Aldi pernah bertanya pada ibunya pada suatu malam yang lapang.

“Masa
mama harus mengandung orang besar selama sembilan bulan, bisa rusak perut mama
jadinya.”

Jawaban itu yang diucapkan Innong, dengan
setengah bercanda.

Sebenarnya
Innong juga punya pertanyaan yang sama dengan Aldi.

“Kalau
demikian, tentu beban tidak seberat ini.”

Tapi
Innong tak mungkin menuruti bahasa khayalannya. Rasa ngantuk kian memburunya.
Semoga nanti tidak bermimpi, mimpi indah tidak lebih dari beban hari esok yang akan menyakitkan bila tak menjadi kenyataan. Mata dipejamkan,
tubuhnya dibalut dengan selimut tebal agar dingin malam tak mengganggu
tidurnya.

Pagi-pagi
Innong harus bangun pagi untuk menyiapkan segala kebutuhan Aldi. Beberapa
potong roti dan segelas susu sebagai menu sarapan, membereskan tempat tidur,
lalu memasangkan seragam sekolah Aldi seakan menjadi agenda wajib yang harus
dikerjakan kecuali pada hari minggu. Innong terlihat seperti ibu yang
professional.

“Hati-hati
di jalan nak.”

“Iya
Ma.”

“Jangan
banya main di kelas, nanti pelajarannya tidak masuk-masuk.”

“Iya
ma.”

“Jangan
malu bertanya sama gurunya, bila ada pelajaran yang tidak dipahami”.

“Iya
ma.”

“Dasar
kamu sayang…” sambil mencium anaknya.

Aldi
telah memahami betul kata-kata yang bisa membuat bundanya tersenyum. Buktinya
Innong memang mengiring  langkah ringan
buah hatinya dengan senyum. Matanya ditahan untuk tidak berkedip sebelum Aldi
menghilang di tikungan jalan.

Sekolah
Aldi masih dalam lokasi perumahan. Innong tak perlu repot
mengantar Aldi sebagaimana orang tua siswa lain
pada umumnya.

Ketika
Aldi di sekolah, itulah saat-saat yang paling mengerikan bagi Innong. Rumah
sempit semakin sempit oleh kesendirian. Kadang-kadang Innong merasa seperti
narapidana yang mendekam di balik bui. Innong juga tak berani untuk
berjalan-jalan ke luar rumah. Innong sangat tahu bahwa melangkahkan kaki
beberapa meter saja dari rumah, maka telinganya akan mendengar suara-suara
sumbang tentang dirinya.

“Eh… tahu tidak orang yang tinggal di
sudut perumahan ini?”

“Iya, namanya Innong. Tapi
sekedar nama, ia jarang sekali ke luar rumah.”

“Jarang keluar rumah kalau siang,
tapi kalau keluar ia selalu memakai pakaian ketatnya… soalnya…”

“Soalnya ia bekerja di malam hari…”

“Ooo…memangnya ia bekerja sebagai
apa?”

“Pura-pura bodoh saja, apa lagi kalau
bukan dagang harga diri…”

“Maksud ibu?”

“Ibu pasti tahu sendiri nanti…”

“Kalau begitu ia
berbahaya untuk kehidupan di lingkungan kita”.

“Jelas bahaya. Ia bisa merusak akhlak
anak-anak kita. Doakan saja biar ia cepat pergi dari
sini.”

Innong
tak punya daya untuk membendung segala penilaian yang menghujamnya. Innong
adalah pulau kecil yang tak berpenghuni, setiap saat gelombang datang  mengikis pinggiran pantainya. Mungkin tidak
lama lagi ia akan tenggelam bersama kebiruan laut. Tapi selama masih bisa,
sebenarnya ia ingin tetap memandang angkasa dan berteriak pada angin.

“Aku
juga lahir dari alam sebagaimana kalian.”

Innong
harus punya prinsip agar tak dikebiri oleh sorotan cerita orang-orang di
sekitarnya.

“Karang
akan tetaplah karang, meski ribuan orang menyebutnya lumpur atau sampah.”

Untuk
mengisi waktu-waktunya yang kosong, Innong selalu berada di kamar Aldi. Segala
yang ada dalam kamar itu seperti mengajaknya bercerita. Wangi pangeran kecil
tertinggal abadi di setiap sudut ruang, maka sebagai penguat asa, sang ratu
yang kesepian selalu menghirup udara yang ada dalam kamar itu. Sang pangerang
kecil boleh bermain ke mana
saja sesuka hati dan semampu otot kakinya, tapi ia selalu berada dalam ruang
hati yang lapang. Tidak ada batas bagi ibu dan anaknya, dengan kematian sekali
pun.

Kamar
Aldi selalu dirapikan. Meski semua sudah teratur dengan baik, tapi bagi Innong,
ada saja hal yang perlu ditambahkan untuk menyenangkan hati anaknya. Dindingnya
dipenuhi dengan gambar-gambar tokoh legendaris dunia.

“Kamu
pasti bisa seperti mereka.”

Selain
itu, Innong selalu sibuk menyiapkan menu makan siang buat Aldi. Innong bahkan
rela membeli buku resep masakan agar ia dapat menyiapkan sekian banyak pilihan
rasa buat Aldi.

Sesekali
Innong juga menyempatkan diri bernostalgia dengan almarhum suaminya dengan
selembar foto yang telah dibingkai.

“Selain menawarkan
kebahagiaan, hidup juga kadang-kadang terlalu kejam untuk dilewati.”

Suara sirine ambulans yang pernah membawa
jenazah suaminya, masih selalu terniang di telinga Innong.
Suara itu mirip halilintar yang dengan sekejap telah mengubur habis segala
kebahagiaan Innong. Seperti bara yang dicelupkan ke dalam genangan air,
tiba-tiba jiwa Innong menjadi gelap. Hidupnya seperti alam semesta di mana
matahari belum tercipta. Ibarat dalam pelayaran, layar kemudinya telah robek,
Innong kehilangan arah. Berbulan-bulan ia menangis, meratapi kepergian
suaminya.

“Ambillah
ia Tuhan, kalau itu bagian dari cintaMu.”

Suami
Innong mengalami musibah kecelakaan. Bus yang ditumpangi dari lokasi kerja
terperosok ke dalam jurang. Hanya raganya yang bisa diselamatkan tapi nyawanya
terbang melayang mencari zat yang telah meniupkannya ke dunia. Padahal, sebelum
peristiwa itu, innong merasa kalau dirinya seperti Camar yang
telah menemukan telaga kebahagiaan.

Di
antara hari-hari yang menghimpitnya, di
antara tangisan Aldi yang menggugah emosinya, Innong mencoba menggantikan peran
suaminya sebagai pencari nafkah bagi keluarga kecilnya. Innong menjadi ibu
sekaligus ayah buat Aldi.

“Di kota yang seegois ini, setiap
pekerjaan menuntut profesionalisme dan keahlian, kadang-kadang juga butuh
pendekatan yang super erat. Pekerjaan
apa yang bisa didapatkan tanpa keterampilan dan pendidikan yang mapan, juga
tanpa keluarga yang bisa membantu. Menjadi pengamen atau pengemis rasanya tak
mungkin cukup untuk membiayai hidup Aldi.”

Dan… saat pak Maulana menawarinya
bernyanyi di sebuah tempat hiburan
malam,
Innong seperti menemukan malaikat penolongnya.

“Tapi
suara saya tidak bagus Pak.”

Suara
nomor dua, yang pertama adalah penampilan, dan kamu memiliki itu.”

Innong
tak terlalu paham dengan kata-kata pak Maulana, tapi malam selanjutnya setelah
pertemuan itu, Innong seperti terlahir sebagai Innong lain. Rambutnya sedikit
dicat keemasan, mukanya dipoles dengan beberapa
lapis krim, bibir dibuat tampak basah oleh warna lipstik, bulu mata dilentikkan
serta kening dirapikan dengan alat penghitam. Pakaian yang selama ini dikenakan
pun diganti dengan ukuran yang sangat ketat.

“Mungkin
ini yang disebut dengan penampilan oleh Pak Maulana.”

Awalnya
terasa susah, tapi lama-kelamaan Innong mencoba menikmati pekerjaannya.

“Yang
pasti tidak mencuri dan tidak merugikan orang-orang yang ada di sekitarku.”

Demikian
yang selalu tertanam di sanubarinya, terutama untuk menepis segala sentimen
negatif akan dirinya.

“Pengusaha
menjual barang-barang kebutuhan manusia, tapi hanya ini yang bisa saya jual.”

Saat
Aldi sudah cerdas bertanya tentang pekerjaan Ibunya, dengan sangat meyakinkan
Innong menjelaskan kalau ia memang adalah seorang penyanyi.

“Tapi
mengapa harus malam bunda?”

“Karena
jadwal nyanyinya memang malam.”

“Kapan-kapan
Aldi mau ikut, boleh ya?”

“Iya
kapan-kapan Aldi boleh ikut.”

“Benar
Bunda?”

“Iya
benar.”

Bagi
Innong “kapan-kapan” adalah jawaban yang tak punya arti, sekedar cara untuk tak
mengecewakan Aldi. “kapan-kapan” bukanlah nama hari atau bulan yang terdaftar dalam kalender, jadi Aldi mungkin tak punya
hak untuk menangih janji itu. Aldi tak boleh tahu bagaimana Innong bekerja.

Di
tempatnya bekerja, Innong bertemu dengan sekian banyak orang, hampir semuanya
laki-laki. Bila cukup waktu, kadang-kadang terjadi perkenalan dengan mereka.

“Suara
kamu bagus.”

“Ah…
bapak, suara saya biasa
saja.”

“Serius”

“Terima kasih”

Gelas-gelas
diisi lalu diteguk, diisi lalu diteguk lagi sampai mata
memerah dan pandangannya tak karuan. Mereka datang dari latar belakang
berbeda-beda. Mungkin juga ada pejabat teras yang sering santun di
depan publik. Tapi siapa pun
mereka, bagi Innong, mereka sangat berarti untuk kelangsungan hidupnya dan
Aldi. Untuk itu, Innong harus pandai-pandai memuaskan mereka dengan pelayanan
yang sebaik-baiknya. Hal itu juga sering disampaikan oleh pak Maulana.

“Bila
dilayani dengan baik, mereka tidak segan-segan mengeluarkan semua uang yang ada
di saku mereka.”

Dengan
alkohol, musik dipadu goyang erotis, tempat itu seperti rimba dimana pikiran
sama sekali tidak mendapatkan ruang. Innong adalah bagian dari cerita rimba
malam, ikut dan taat pada segala aturan yang berlaku di sana.

“Di
sini, kita tidak dibatasi dengan apa pun, biarlah suara-suara musik dan
lampu yang temaram menuntun kita untuk meraba permukaan surga yang sebenarnya
teramat dekat…hahaha…!!!”

Kenyataannya,
Innong tidak terlalu lama dalam dunia itu. Ia tak perlu menunggu kulitnya
berubah menjadi keriput, atau keindahan pinggulnya memudar. Saat itu ia tidak
sampai tengah malam, bahkan hanya beberapa menit. Tak sebait syair lagu pun
dinyanyikan. Buru-buru ia memanggil taksi setelah melihat pintu masuk telah di
segel dan diberi garis polisi. Innong tidak terlalu ikhlas
dengan hal ini, tapi dalam hatinya ada bisikan yang menyuruhnya untuk segera
pergi.

“Pasti
telah terjadi sesuatu yang tidak menggembirakan…”

Demikian
yang sempat terlintas dalam benaknya.

Nomor
kontak pak Maulana dihubungi, namun yang didengarnya adalah suara operator yang
manandakan kalau nomor itu sedang tidak aktif.

Tapi
sehari kemudian Innong bisa tahu kalau ternyata izin
operasi tempat hiburan milik Pak Maulana telah dicabut oleh pemerintah. Entah
apa sebab dari peristiwa itu, tapi bagi
Innong, hal itu adalah pertanda buruk bagi penghasilannya.

Bangunan
kehidupannya yang memang tak kokoh kembali terurai menjadi serakan kebingungan.
Dari mana lagi Innong akan memulai lembaran hari-harinya.

“Mengapa
pemerintah kadang-kadang seperti monster…”

“Sudah
selayaknya tempat itu ditutup.”

“Tapi
bagaimana dengan nasib saya.”

“Makanya
kalau cari kerja yang benar.”

“Apanya
yang salah…”

“Jutaan
sel telah mati percuma, gara-gara barang-barang haram itu.”

“Andai
saya punya modal yang cukup… jadi pengusaha… beli rumah dan mobil mewah… punya
jaminan kesehatan…”

Harapan,
pikiran, dan khayalan kadang-kadang sulit untuk dibedakan. Manusia selalu
keliru dalam memisahkan hal terbaik dan ambisi dalam hidup mereka. Bila
memiliki sepohon bunga, seseorang selalu memangkas sekehendak hati lalu
menyediakan pot sesuai selera. Tapi
hal itu bukanlah pilihan baik sebab tenyata sang bunga selalu ingin menyerap
mineral-mineral tanah dan energi matahari dengan cabang-cabang dan daunnya yang
lebat. Kearifan adalah pelajaran yang paling sulit untuk dipahami.

“Pak
Maulana tertangkap, atas tuduhan penyalahgunan Surat Izin Pemerintah, prostitusi dan peredaran narkoba, anda diminta untuk memberi kesaksian”.

Innong
cukup kaget dengan hal itu, rasa ragu dan takut sangat jelas dalam raut
mukanya…

“Jangan-jangan…

semoga tidak…”

Kesaksian
Innong

“Sudah
berapa lama anda menjadi penyanyi di tempat Pak Maulana?”

“Kurang
lebih satu tahun.”

“Dari
jam berapa sampai jam berapa?”

“Jam
sembilan malam sampai jam tiga subuh, tapi kadang-kadang juga sampai pagi.”

Dari
rentetan pertanyaan itu, satu diantaranya memaksa Innong untuk melinangkan air
matanya…

“Selain
menyanyi, apakah anda punya pekerjaan lain?”

“Iya…
demi mencari penghasilan yang lebih
banyak.”

Sang
penyidik cukup paham dengan penghasilan tambahan yang dimaksud Innong. Mungkin
pembaca juga cukup paham. Ternyata selain menyanyi Innong juga adalah seorang…

 

 

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Erica!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out